pdtsaneb juga mengingatkan bahwa kecenderungan orang membangun gedung gereja dimana-mana sealu hanya untuk mencari nama besar, cari pujian sehingga pekerjaan pembangunan tidak jarang dirundung konflik hingga berujung pada perpecahan karena itu mata jemaat maranatha harus menjadi contoh yang baik bagi jemaat-jemaat lain yakni harus menjadi
Rabu4 September 2019 bertempat dikompleks Gereja HKBP Aekkanopan telah dilaksanakan Peletakan batu pertama pembangunan Gedung Sekolah Minggu dan Rumah Pastori, adapun acara tersebut dibuka dengan Ibadah singkat yang dibawakan oleh Gr. Darwis Siahaan dan Khotbah oleh Pendeta Ressort HKBP Aekkanopan Pdt.Anggiat Saut Simanullang,S.Th,
Marilahkita bersama-sama memperbaharui komitmen menggunakan segenap potensi, kemampuan pribadi kita untuk membangun jemaat Tuhan baik dalam bidang pelayanan, penatalayanan dan pembangunan serta dalam relasi atar sesama anggota gereja. Imanuel. Sumber: FHK KGPM KHOTBAH MINGGU KE 4 JUNI. khotbah kristen
Perdaganganmeningkat tajam (8:5a), bahkan berskala internasional (3:9). Pembangunan gedung-gedung makin berkembang (3:15). Jumlah rumah semakin banyak (3:15b; 5:11; 6:8) dan perabotan pun semakin bervariasi (3:10, 12b,15b;6:4a). All Khotbah Minggu Gereja Toraja 2022: MENU UTAMA: Alkitab Bahasa Toraja PL BACAAN HARIAN GEREJA TORAJA 2022
102thGedung Gereja Zebaoth, Khotbah Tematik Bagus, Lenny Syafei: Empat Tokoh Akan Bicara JAKARTA, Arcus GPIB - Gedung gereja Zebaoth Bogor berusia 102 tahun. Usia yang tidak singkat dalam perjalanan sejarah gereja tua ini di Kota Bogor yang hadir membawa terang bagi sesama dan seluruh ciptaan-Nya.
PembangunanGedung Gereja Pembelian Tanah Bagian Kiri dan Kanan Depan Gereja untuk Halaman Parkir Waktu pelaksanaan kegiatan, Panitia diberi jangka waktu kerja mulai Agustus 2007 hingga Agustus 2008. IV. REALISASI PEMBANGUNAN SAMPAI SAAT INI Sampai saat ini pembangunan gedung Gereja "BAIT - EL" Bahu sudah terealisasi + 35%.
RENCANAPEMBANGUNAN GEDUNG SERBA GUNA DR MANSYUR 22. MINGGU 09 NOPEMBER 2014 KETUA DAERAH KETUA SIDANG Pdt MARBUN 23. KisahParaRasul 2 42. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. 24. TERIMA KASIH
LDjs. Pastor Jeremiah Zhang 1 Raja-Raja 6 & 7 Pasal 6 dan 7 dari 1 Raja-Raja menggambarkan proses pembangunan Bait Suci. Di pasal 71-12 disisipkan tentang Salomo membangun istananya, gedung “hutan Libanon” dan istana untuk putri Firaun. Pembangunan ini bermula setelah Bait Suci selesai didirikan. Pembangunan Bait Suci memakan waktu selama 7 tahun. Menurut 2 Tawarikh 81, Salomo menggunakan 13 tahun untuk mendirikan istananya. Ada yang bertanya pada saya, “Mengapa Salomo membangun istana untuk dirinya yang dua kali lipat lebih besar dari Bait Suci dan mengapa dia memakai 13 tahun untuk mendirikannya – 6 tahun lebih dari membangun Bait Suci? Salomo memberikan yang terbaik dan yang paling megah untuk dirinya sendiri. Bukankah dengan berbuat demikian, dia sedang meninggikan dirinya? Bukankah dia seharusnya memberikan yang terbaik dan termegah untuk Allah? Alkitab selalunya mencatat hal-hal dalam cara yang umum. Catatan Alkitab tidak menyediakan gambaran yang rinci. Dan tidak ada komentar juga tentang hal ini. Kita biasanya membaca Alkitab dengan cara retrospektif. Kita tahu bahwa Salomo meninggalkan Allah saat dia tua. Jadi, kita selalu melihat pada apa yang Salomo lakukan di waktu mudanya dengan pandangan yang miring. Misalnya, kita pikir bahwa pernikahannya dengan putri Firaun adalah suatu dosa; menjalin hubungan diplomatik dengan negara lain adalah berkompromi dengan dunia; membangun istana yang besar adalah suatu tindakan yang sombong dan meninggikan diri. Tapi, jika Salomo seperti Daud bertekun dalam mengasihi Allah sampai tua, apakah kita masih akan mengkritiknya dengan cara itu? Kita berbicara tentang kebesaran hati, hal ini merupakan pokok yang sangat penting. Kita harus berbesar hati dalam bergaul dengan orang; kita harus berbesar hati saat membaca Alkitab dan berjalan bersama Allah. Mengapa saya berkata demikian? Karena banyak orang Kristen yang sangat sempit hatinya. Allah akan sangat kesulitan untuk memimpin, mengajar dan mengubah orang yang demikian. Petrus adalah contoh yang baik. Sebanyak tiga kali, Roh Kudus memberinya visi untuk memberitakan Injil kepada orang fasik, tapi dia tidak bisa menerima. Dia bahkan berkata kepada Tuhan, “Tidak demikian, Tuhan!” Jadi, kita dapat melihat bahwa jika kita mau Allah menggenapi kehendakNya di dalam hidup kita, kita harus memiliki kebesaran hati. Pemikiran Allah jauh melebihi pemikiran kita. Jika kita tidak menyingkirkan kesempitan hati dan kesempitan konsep agamawi kita, kita tidak mungkin dapat memahami Alkitab. Dan tidaklah mungkin untuk kita memahami kehendak Allah. Bagaimana kita bisa membaca Alkitab dengan kelapangan hati? Caranya adalah untuk tidak memakai pemikiran kita sendiri untuk menafsir Alkitab. Dan membiarkan Roh Allah mengajar kita untuk memahami kehendak Allah. Banyak orang Kristen mengira bahwa Allah adalah seorang tiran yang selalu senang memberikan banyak ketetapan dan hukum untuk mengekang kita. Dia senang melihat kita menderita. Dia akan menjadi iri dan marah kalau kita sedang menikmati sesuatu. Jadi, untuk menjadi umat Allah, kita tidak boleh melakukan sekehendak hati kita. Kita harus menyenangkan Allah dalam segala sesuatu yang kita lakukan. Allah memiliki sukacita yang tak berkesudahan. Tapi kita tidak boleh mencari sukacita. Banyak orang – termasuk orang Kristen – yang berpikir dengan cara ini. Manusia di dalam kesempitan hati mereka selalu mengira bahwa Allah juga, seperti dirinya, memiliki hati yang sempit. Mengapa kita berasumsi bahwa Allah tidak senang Salomo membangun istana yang lebih besar dan lebih megah dari Bait Suci? Apakah Allah orangnya kikir? Apakah hati Allah sedemikian sempit? Saya mau membagikan satu perikop dengan Anda. Ulangan 1422-26 Ulangan 1422-26 “Haruslah engkau benar-benar mempersembahkan sepersepuluh dari seluruh hasil benih yang tumbuh di ladangmu, tahun demi tahun. Di hadapan TUHAN, Allahmu, di tempat yang akan dipilihNya untuk membuat namaNya diam di sana, haruslah engkau memakan persembahan persepuluhan dari gandummu, dari anggurmu dan minyakmu, ataupun dari anak-anak sulung lembu sapimu dan kambing dombamu, supaya engkau belajar untuk selalu takut akan TUHAN, Allahmu. Apabila, dalam hal engkau diberkati TUHAN, Allahmu, jalan itu terlalu jauh bagimu, sehingga engkau tidak dapat mengangkutnya, karena tempat yang akan dipilih TUHAN untuk menegakkan namaNya di sana terlalu jauh dari tempatmu, maka haruslah engkau menguangkannya dan membawa uang itu dalam bungkusan dan pergi ke tempat yang akan dipilih TUHAN, Allahmu, dan haruslah engkau membelanjakan uang itu untuk segala yang disukai hatimu, untuk lembu sapi atau kambing domba, untuk anggur atau minuman yang memabukkan, atau apa pun yang diingini hatimu, dan haruslah engkau makan di sana di hadapan TUHAN, Allahmu dan bersukaria, engkau dan seisi rumahmu. Di sini yang dibicarakan adalah tentang persepuluhan. Persepuluhan yang dipersembahkan oleh orang Israel datangnya dari hasil ladang atau ternak. Ayat 23 berkata bahwa persembahan persepuluhan adalah untuk mengajar umat Allah untuk takut pada Allah. Karena hal ini merupakan ungkapan jasmani dari ketundukan kita pada kedaulatan Allah. Lewat persembahan persepuluhan ini, kita menghormati Dia sebagai Pencipta dan mengakui bahwa segala sesuatu yang kita miliki datangnya dari Dia. Persembahan persepuluhan hanya untuk mengembalikan apa yang telah Dia berikan pada kita. Persembahan persepuluhan bangsa Israel dibawa ke Tabut Allah dan dipersembahkan kepada Allah. Jika perjalanannya terlalu jauh, Allah mengizinkan mereka untuk menguangkan persembahan persepuluhan mereka dan membawanya ke Bait Suci Allah. Saat mereka tiba di tempat, mereka akan bisa memakai uang itu untuk membeli sapi, domba, anggur atau minuman keras yang mereka ingin makan dan minum. Lalu, mereka akan mempersembahkan semuanya pada Allah. Mereka bisa menikmati di hadapan Allah sebagian dari persembahan itu sebelum mereka berangkat pulang. Perhatikan kata-kata “apa pun yang diingini hatimu” di ayat 26. Allah mengizinkan umatNya untuk mengingini sesuai dengan hati mreka. Apa saja yang mereka mau makan, mereka bisa mempersembahkannya pada Allah. Dengan cara ini, mereka juga bisa menikmatinya. Allah berkehendak untuk mereka makan dan minum dengan penuh sukacita bersama keluarga mereka di depan Allah – kehendak Allah bagi umatNya adalah untuk selalu bersukacita. Allah bukanlah tiran sebagaimana yang kita pikirkan. Dia sangat menghendaki kita untuk menikmati kehidupan kita sesuai dengan keinginan hati kita. Segala sesuatu sudah dia karuniakan pada kita untuk dinikmati. Tidaklah mengherankan Paulus di 1 Timotius 617 memuji Allah sebagai “Allah yang hidup yang telah mengarunia dengan limpahnya segala sesuatu untuk dinikmati”. Inilah kehendak Allah. Dia tidak bermaksud untuk mengekang kita, membuat kita menderita. Kita tidak dapat menikmati kehidupan kita sesuai dengan keinginan hati kita bukan karena Allah melarangnya. Hal ini adalah dikarenakan dosa dan keegoisan kita yang membuat hidup kita sengsara. Karena itu ayat 23 pertama-tama menyebut tentang takut akan Allah, lalu berbicara tentang “apa pun yang diingini hatimu” dan “haruslah engkau makan dan minum dan bersukacita.” Kehendak Allah adalah untuk kita takut akan Dia, hidup sesuai dengan kehendakNya. Hanya dengan cara ini, kehidupan kita akan menjadi berkelimphan, sukacita dan puas. Jika Salomo takut akan Allah dan menepati semua perintah dan ketetapan Allah dengan segenap hatinya, dia bisa melakukan sesuai dengan keinginan hatinya. Allah tidak akan marah. Kehendak Allah adalah bagi bangsa Israel menikmati kehidupan sesuai dengan keinginan hati mereka. Jadi, di 1 Raja-Raja 611-12, Allah memperingatkan Salomo untuk menepati perintah-perintah, ketetapan-ketetapan dan hukum-hukumNya. Allah menginginkan Salomo untuk menjadikan dirinya teladan untuk mengajarkan pada bangsa Israel takut akan Allah. Karena hanya pada saat manusia takut pada Allah, dia bisa dengan bebas mengingini sesuai dengan kehendak Allah dalam menjalani kehidupannya. Dengan demikian, dia akan menjadi orang yang sungguh-sungguh bahagia dan merdeka. Kita harus mengkaji ulang pandangan kita tentang Allah. Jangan membayangkan Allah sebagai seorang tiran yang kikir dan sempit hatiNya. Anda harus menanggalkan semua konsep yang keliru tentang Allah. Kita harus memakai kebesaran hati untuk mengenal dan mempelajari firmanNya. Dalam cara ini, Anda akan sepenuhnya mempunyai ide yang baru tentang Allah. Saat Anda mempelajari Alkitab, Anda akan menemukan banyak pencerahan yang tidak Anda lihat sebelumnya. Pasal 6 dan 7 menyebut tentang proses pembangunan Bait Suci. Pembangunan Bait Suci juga menubuatkan tentang pembangunan gereja. Tujuan akhir dari keduanya adalah untuk mengundang Allah untuk berdiam di tengah-tengah umatNya. Lewat ini, kita dapat memuliakan nama Allah dan menarik umat dari semua bangsa untuk berpaling pada Allah. Jadi, di 1 Raja-Raja 611-13, Allah memperingatkan Salomo tujuan pembangunan Bait Suci. Allah juga memperingatkan dia bahwa Bait Suci tidak dapat mengambil tempat ketundukan mereka pada Allah. Hanya saat kita tunduk pada Allah dan menepati kehendakNya, Allah akan berada di tengah-tengah umatNya. Daudlah yang menyarankan rencana pembangunan Bait Suci. 1 Tawarikh 28-29 mencatat sumbangan Daud terhadap pembangunan Bait Suci. Hari ini, kita akan melihat pada 1 Raja-Raja 7-8 dan 1 Tawarikh 28-29 untuk memahami prinsip-prinsip pembangunan Bait Suci. Memahami prinsip-prinsip ini membantu mereka yang melayani Allah untuk memahami bagaimana membangun gereja sesuai dengan kehendak Allah. 1 Daud mendirikan Bait Suci karena kasihNya pada Allah Setiap kali Alkitab menyebut tentang pembangunan Bait Suci, nama Daud akan disebut. Walaupun yang bertanggungjawab dalam pembangunan Bait Suci adalah Salomo, tapi Daudlah yang memunculkan gagasan ini. Karena Daud mengasihi Allah dan mau membalas kebaikan Allah, jadi dia merencanakan untuk membangun suatu tempat tinggal yang permanen bagi Allah. Dia juga melakukan banyak persiapan dan menyediakan banyak persembahan untuk pembangunan Bait Suci. Itulah alasan mengapa Daud disebut sebagai orang yang di balik pembangunan Bait Suci. Di pasal 28 dari 1 Tawarikh, Daud menyebut alasan di balik pembangunan Bait Suci kepada para pemimpin Israel. Alasan pertama adalah karena dia mengasihi Allah. Kita melihat di 1 Tawarikh 292-3 1 Tawarikh 292-3 Dengan segenap kemampuan aku telah mengadakan persediaan untuk rumah Allahku, yakni emas untuk barang-barang emas, perak untuk barang-barang perak, tembaga untuk barang-barang tembaga, besi untuk barang-barang besi, dan kayu untuk barang-barang kayu, batu permata syoham dan permata tatahan, batu hitam dan batu permata yang berwarna-warna, dan segala macam batu mahal-mahal dan sangat banyak pualam. Lagipula oleh karena cintaku kepada rumah Allahku, maka sebagai tamabahan pada segala yang telah kusediakan bagi rumah kudus, aku dengan ini memberikan kepada rumah Allahku dari emas dan perak kepunyaanku sendiri. Dari beberapa ayat ini, kita dapat merasakan betapa mendalamnya kasih Daud pada Allah. Karena Daud mengasihi Allah, jadi dia mengasihi rumah Allah. Dia berharap untuk mendirikan suatu tempat yang permanen untuk Allah secepat mungkin supaya dia dapat mengundang Allah untuk tinggal di tengah-tengah umat Israel. Allah sangat senang dengan apa yang mau Daud lakukan. Tapi karena Daud adalah seorang prajurit yang telah membunuh dan menumpahkan darah banyak orang, jadi Allah tidak mengizinkan dia untuk mendirikan Bait Suci, karena Rumah Allah adalah rumah doa bagi semua dan rumah damai. Dan hanya raja damai yang layak untuk mendirikan rumahNya. Sekalipun demikian, Allah masih menghargai keinginan Daud. Jadi, Dia berjanji pada Daud bahwa anaknya, Salomo akan mengambil tempat dia dalam menggenapi keinginannya mendirikan Bait Suci. Yang Allah hargai adalah hati Daud, bukannya Bait Suci. Tentu saja, karena Allah berkenan pada Daud, jadi Allah juga berkenan pada keingingan hati dan persembahan dari Daud ini. Hal ini mengingatkan kita pada motif hati dalam bekerja untuk Allah dan melibatkan diri dalam mendirikan gereja, semuanya ini harus dilakukan karena kasih kita pada Allah. Jika tidak, Allah tidak akan berkenan dan tidak akan menerima semua yang telah kita lakukan. Semua orang tahu tentang kasih Daud pada Allah. Kita dapat merasakan hal itu saat kita mempelajari Mazmur. Kiranya kita semua belajar dari Duad untuk mengasihi Allah dengan segenap hati dan akal budi kita. 2 Daud mempersembahkan segala sesuatu untuk mendirikan Bait Suci Kasih Daud pada Allah bukanlah sekadar ngomong saja tanpa perbuatan. Daud tidak memakai uang dari kas negara untuk mendirikan Bait Suci. Dia tidak meminta orang banyak untuk menyumbang uang demi pembangunan Bait Suci. Daud mempersembahkan semua uang tabungannya untuk mendirikan Bait Suci. Kita melihat pokok ini di 1 Tawarikah 292-3. Sekalipun Allah tidak mengizinkan Daud untuk mendirikan Bait Suci, dia masih mengambil inisiatif untuk mempersembahkan apa yang dimilikinya untuk mendirikan Bait Suci. Dia mempersiapkan emas, perak, tembaga, besi, kayu dan batu-batu berharga untuk Bait Suci. Semua uangnya diberikan untuk bait Allah. Kasih Daud pada Allah diungkapkan dalam persembahannya yang tanpa batas pada Allah. Tentu saja, mengandalkan kekuatan keuangan satu orang, tidaklah cukup untuk mendirikan Bait Suci. Sekalipun persembahan Daud sangat besar, tapi tidak cukup untuk proyek besar mendirikan Bait Suci. Jadi, Daud harus meminta umat untuk memberikan persembahan demi pendirian Bait Suci. Kita baca di 1 Tawarikah 292-9 1 Tawarikah 292-9 gan segenap kemampuan aku telah mengadakan persediaan untuk rumah Allahku, yakni emas untuk barang-barang emas, perak untuk barang-barang perak, tembaga untuk barang-barang tembaga, besi untuk barang-barang besi, dan kayu untuk barang-barang kayu, batu permata syoham dan permata tatahan, batu hitam dan batu permata yang berwarna-warna, dan segala macam batu mahal-mahal dan sangat banyak pualam. Lagipula oleh karena cintaku kepada rumah Allahku, maka sebagai tambahan pada segala yang telah kusediakan bagi rumah kudus, aku dengan ini memberikan kepada rumah Allahku dari emas dan perak kepunyaanku sendiri tiga talenta emas dari emas Ofir dan tujuh ribu talenta perak murni untuk menyalut dinding ruangan, yakni emas untuk barang-barang emas dan perak untuk barang-barang perak dan untuk segala yang dikerjakan oleh tukang-tukang. Maka siapakah pada hari ini yang rela memberikan persembahan kepada TUHAN?” Lalu para kepala puak daan para kepala suku Israel dan para kepala pasukan seribu dan pasukan seratus dan para pemimpin pekerjaan untuk raja menyatakan kerelaannya. Mereka menyerahkan untuk ibadah di rumah Allah lima ribu talenta emas dan sepuluh ribu dirham, sepuluh ribu talenta perak dan delapan belas ribu talenta tembaga serta seratus ribu talenta besi. Siapa yang mempunyai batu permata menyerahkannya kepada Yehiel, orang Gerson itu, untuk perbendaharaan rumah TUHAN. Bangsa itu bersukacita karena kerealaan mereka masing-masing sebab dengan tulus hati mereka memberikan persembahan sukarela kepada TUHAN; juga raja Daud sangat bersukacita. Membangun Bait Suci atau melakukan pekerjaan Allah tidak boleh mengandalkan kekuatan satu orang. Jadi, Daud memanggil para pejabat dan pemimpin untuk mengambil bagian dalam mempersembahkan persembahan bagi pembangunan Bait Suci. Mereka dengan penuh kerelaan mempersembahkan emas, perak, tembaga, besi dan batu-batu permata. Umat dengan tulus dan penuh kerelaan mempersembahkan pada Allah. Allah juga mengaruniakan kepada umat Israel dan Daud sukacita yang besar. Kita dapat melihat prinsip spiritual di sini bagi mereka yang dengan penuh sukacita dan penuh kerelaan mempersembahkan pada Allah, mereka akan mengalami sukacita dari Allah karena Allah sangat senang dengan persembahan yang demikian. Berikanlah perhatian pada pokok ini. Mengapa orang dengan tulus rela memberikan persembahan? Hal ini adalah dikarenakan persembahan Daud yang tanpa batas pada Allah. Daud mempersembahkan semua yang dimilikinya. Teladan dari Daud merupakan satu motivasi bagi mereka. Jadi, kita dapat melihat bahwa gembala harus menjadikan dirinya teladan untuk diikuti oleh orang lain. Dia tidak seharusnya hanya memakai mulutnya untuk berkata bahwa dia mengasihi Allah, dia harus mempersembahkan dirinya sepenuhnya kepada Allah. Persembahan semacam ini sangat menyenangkan Allah. Persembahan diri kita seutuhnya pada Allah akan mendorong orang lain untuk lebih lebih lagi mengasihi Allah. 3 Bait Suci didirikan sesuai dengan cetak biru dari Allah Saat Anda membaca pasal 6-7, Anda pasti akan bertanya Terdapat perbedaan yang besar di antara Bait Suci yang didirikan oleh Salomo dengan Kemah yang dari Musa. Salomo mendirikan Bait Suci dan segala sesuatu di dalamnya berdasarkan rencana atau cetak biru dari siapa? 1 Raja-Raja 6-7 tidak memberikan kita jawabannya. Tapi kita dapat menemukan jawabannya di 1 Tawarikah 2811-19 1 Tawarikah 2811-19 Daud menyerahkan kepada Salomo, anaknya, rencana bangunan dari balai Bait Suci dan ruangan-ruangannya, dari perbendaharaannya, kamar-kamar atas dan kamar-kamar dalamnya, serta dari ruangan untuk tutup perdamaian. Selanjutnya rencana dari segala dipikirkannya mengenai pelataran rumah TUHAN, dan bilik-bilik di sekelilingnya, mengenai perbendaharaan-perbendaharaan rumah Allah dan perbendaharaan-perbendaharaan barang-barang kudus; mengenai rombongan-rombongan para imam dan para orang Lewi dan mengenai segala pekerjaan untuk ibadah di rumah TUHAN dan segala perkakas untuk ibadah di rumah TUHAN. Juga ia memberikan emas seberat yang diperlukan untuk segala perkakas pada tiap-tiap ibadah; dan diberikannya perak seberat yang diperlukan untuk segala perkakas-perkakas pada tiap-tiap ibadah, yakni sejumlah emas untuk kandil-kandil emas dan lampu-lampunya yang dari emas, seberat yang diperlukan tiap-tiap kandil dan lampu-lampunya, dan perak untuk kandil perak seberat yang diperlukan perak untuk satu kandil dan lampu-lampunya, sesuai dengan pemakaian tiap-tiap kandil dalam ibadah. Kemudian diberikannya sejumlah emas untuk meja-meja roti sajian, meja demi meja, dan perak untuk meja-meja dari perak; selanjutnya emas murni untuk garpu-garpu, dan bokor-bokor penyiraman dan kendi-kendi, juga untuk piala-piala dari emas seberat yang diperlukan untuk tiap-tiap piala, dan perak untuk piala dari perak seberat yang diperlukan untuk tiap-tiap piala; juga emas yang disucikan untuk mezbah pembakaran ukupan seberat yang diperlukan dan emas untuk pembentukan kereta yang menjadi tumpangan kedua kerub, yang mengembangkan sayapnya sambil menudungi tabut perjanjian TUHAN. Semuanya itu terdapat dalam tulisan yang diilhamkan kepadaku oleh TUHAN, yang berisi petunjuk tentang segala pelaksanaan rencana itu. Allah sebenarnya sudah lama telah menyingkapkan cetak biru untuk pembangunan Bait Suci. Daud mencatat setiap detil dari Bait Suci, termasuk pembagian suku Lewi. Daud tidak memberitahu kita bagaimana Allah menyingkapkan semua hal itu kepadanya, besar kemungkinan melalui para nabi. Sekalipun Allah tidak mengizinkan Daud membangun Bait Suci, Allah menghargai Daud dan mengaruniakan kepadanya penghargaan khusus ini karena kasih Daud kepadaNya. Allah menyingkapkan rencana atau cetak biru untuk pembangunan Bait Suci hanya kepada Daud dan Daud memberikan arahan kepada Salomo. Ini menunjukkan bahwa hubungan Daud dengan Allah sangatlah luar biasa. Walaupun Salomo yang membangun Bait Suci, Allah memberikan pujian dan kemuliaan kepada Daud sebagai yang membangun Bait Suci. Tidaklah mengherankan bahwa 1 Raja-Raja seringkali menempatkan Daud dan pembangunan Bait Suci itu bersama-sama. Seringkali saat Alkitab berbicara mengenai janji tentang pembangunan Bait Suci, nama Daud akan muncul. Pokok ini juga mengingatkan kita bahwa sekiranya kita mengasihi Allah dengan segenap hati dan akal budi dan mempersembahkan yang terbaik bagiNya, Allah akan sangat senang menyingkapkan kehendakNya kepada kita. Jika kita mendirikan gereja menurut kehendakNya, pekerjaan kita akan efektif. Sebaliknya, jika kita melakukan segala sesuatu menurut kehendak kita sendiri, pelayanan kita tidak akan berdampak. Sekalipun ada sedikit dampak, tapi pekerjaan kita tidak akan bertahan. 4 Bait Suci dibangun dengan materi yang terbaik Bahan bangunan yang utama untuk pembangunan Bait Suci adalah batu yang besar, aras, zaitun emas dsbnya. Batu-batu yang besar dipakai untuk pembangunan tembok luar. Ayat memberitahu kita bahwa Salomo mengutus orang ke gunung untuk melinggis batu-batu yang besar dan mahal. Ini bukan batu-batu yang biasa. Mereka adalah batu-batu yang berharga yang sudah dibentuk oleh pemahat-pemahat. Hanya batu-batu yang sudah dipahat yang dapat digunakan untuk membangun Bait Suci. Kayu aras dikirim dari Tirus yang jauh lewat laut ke Yafo. Kayu-kayu itu kemudian dikirim ke Yerusalem dari Yafo. Transportasi pada waktu itu sangat sulit karena tidak ada jalan yang bagus dari Yafo ke Yerusalem. Batu-batu besar dan kayu aras merupakan bahan-bahan yang sangat mahal. Belum lagi bahan-bahan seperti emas yang bahkan lebih mahal lagi. Salomo memilih bahan-bahan yang terbaik untuk mendirikan Bait Suci. Sekalipun Bait Suci ini bukan untuk Allah yang tidak membutuhkan tempat tinggal, namun Bait Suci ini memanifestasikan kemuliaan Allah. Jadi membangun Bait Suci harus memakai bahan-bahan yang paling bagus. Kita telah melihat di PA yang lalu bahwa batu, aras, zaitun dan emas dll, adalah bahan-bahan yang melambangkan manusia. Membangun gereja adalah untuk memimpin orang untuk mengenal Kristus di mana melaluinya orang bisa menjalin hubungan dengan Allah. Para penginjil bukan saja membawa orang untuk percaya pada Kristus, mereka juga harus memimpin mereka untuk bertumbuh sesuai dengan kehendak dan rencana Allah. Dan menuntun mereka untuk mengeluarkan aroma Kristus. Gereja membutuhkan orang Kristen yang dewasa untuk bersinar untuk Allah, untuk memuliakan Allah. Jadi membangun jemaat adalah suatu misi yang sangat sulit. Jika para hamba Tuhan itu sendiri tidak mempersembahkan diri mereka sepenuhnya dan tidak melayani dengan segenap hati dan pikiran, mereka tidak akan mengalami kemurahan Allah untuk menggenapi misi mereka. Jadi, kita harus ingat bahwa membangun jemaat bukan berarti memimpin orang dengan begitu saja dan secara sembrono mempercayai Yesus. Membangun jemaat berarti memimpin orang lain untuk bertumbuh dewasa untuk menjadi bahan bangunan yang berharga yang dapat dipakai oleh Allah. Batu dan kayu apa saja dapat dipakai untuk membangun sebuah rumah. Tapi kualitas sebuah rumah dan apakah kualitas rumah itu bagus atau jelek bergantung pada materi apa yang kita pakai. Hanya apabila kita memakai bahan yang paling bagus untuk membangun, pembangunan kita itu dapat bertahan melewati ujian Allah dan menyenangkan Allah. Kita baca di 1 Ko. 312-13 1 Korintus 312-13 Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. Pekerjaan yang dimaksudkan oleh Paulus adalah pekerjaan membangun jemaat. Dia mengingatkan setiap pelayan Tuhan bahwa kita harus tahu dengan bahan apakah yang akan kita pakai untuk membangun gereja. Karena pekerjaan kita akan diuji oleh Allah. Allah akan memakai api untuk menguji pekerjaan kita. Pekerjaan yang dibangun dengan memakai jerami dan rumput kering akan terbakar. Itu berarti hanya materi yang terbaik yang akan diterima oleh Allah. 5 Bait Suci dibangun di tengah-tengah kedamaian 1 Raja-Raja 67 berkata Pada waktu rumah itu didirikan, dipakailah batu-batu yang telah disapkan di penggalian, sehingga tidak kedengaran palu atau kapak atau sesuatu perkakas besi pun selama pembangunan rumah itu. Kita dapat membanyangkan seluruh proses pembangunan Bait Suci dilaksanakan dalam keadaan damai dan tenang. Hal ini sangat berbeda dengan pembangunan yang kita lihat. Alat-alat besi adalah simbol untuk usaha manusia. Ini berarti kita tidak seharusnya memakai usaha manusia untuk melakukan pekerjaan Allah. Banyak hamba Tuhan memakai ide, kemampuan dan semangat mereka sendiri untuk melakukan pekerjaan Allah. Hasilnya adalah pepecahan, kekacauan dan perselisihan. Para hamba Tuhan harus sehati sepikir, dan tunduk pada pimpinan Allah, dengan demikian pelayanan mereka akan membuahkan hasil. Pelayanan semacam ini tidak akan bising, tidak akan ada pertengkaran. Hanya dengan tunduk pada Allah, akan ada damai dan ketenangan. Kiranya pokok-pokok di atas dapat membantu kita untuk mengerti bagaimana melayani Allah, dan membangun jemaat sesuai dengan kehendak Allah. Di PA yang akan datang, kita akan melihat pada pasal 8, yaitu tentang upacara mempersembahkan Bait Suci. Berikan Komentar Anda
Minggu Biasa Bulan Pembangunan GKJW Stola Hijau Bacaan 1 Yeremia 23 23 – 29 Bacaan 2 Ibrani 11 29 – 12 2 Bacaan 3 Lukas 12 49 – 56 Tema Liturgis Iman menjadi Dasar Tanggung Jawab Umat dalam Pembangunan Gereja Tema Khotbah Pengharapan adalah Wujud Iman yang Tak Lekang oleh Penderitaan Penjelasan Teks Bacaan Tidak perlu dibaca di mimbar, cukup dibaca saat mempersiapkan khotbah Yeremia 23 23 – 29 Nabi Yeremia hidup pada masa yang sulit. Di dalam negeri, bangsa Israel sedang dilanda perpecahan yang hebat. Bagian Selatan yang dikuasai keturunan Daud tetap mempertahankan Yerusalem sebagai ibukotanya. Bagian Selatan ini kemudian dikenal sebagai kerajaan Yehuda. Sementara di wilayah Utara para penentang keluarga Daud mulai menjadikan Samaria sebagai ibukota baru bagi golongan mereka. Wilayah Utara ini kemudian dikenal sebagai Kerajaan Israel. Sedangkan di sekitar negeri mereka itu bangsa-bangsa besar saling berebut pengaruh. Sisa-sisa kerajaan Asyur yang sempat menguasai kawasan Israel Raya masih berusaha untuk bertahan di sisi Utara yang berbatasan dengan Asia Kecil, maupun di sisi Barat Daya yang menjorok ke arah Mesir. Sedangkan kerajaan Babel dengan cepat melebarkan sayap kekuasaannya dari sisi Timur Laut wilayah Palestina sampai bagian tengah jasirah Arab. Bahkan pada zaman Yeremia itu kekuatan Babel sudah berhasil menguasai kerajaan Yehuda yang sedang seru-serunya bertengkar dengan saudara sebangsanya itu. Sementara dari wilayah Timur kawasan Mesopotamia juga sedang tumbuh kerajaan baru yang tidak kalah ganasnya dan terus membesar yaitu Persia. Jadi baik di luar maupun dalam negeri situasinya sedang sangat buruk. Siapapun yang memiliki niat jahat dan mempunyai kekuatan, mudah merasa mendapat kesempatan luas untuk mencurangi sesama demi keuntungan diri sendiri. Bahkan nabi-nabi palsu juga bermunculan untuk turut mengail di air keruh. Pada suasana masyarakat yang kacau balau seperti itulah Yeremia berseru-seru mengingatkan dan memberi pengharapan besar kepada penduduk Yehuda supaya mereka tidak jatuh ke dalam keputus-asaan yang mendalam terus-menerus, lalu mencari jalan selamat sendiri-sendiri. Ia mengingatkan bahwa umat Yahudi harus waspada dan peka supaya tidak mudah diperdaya oleh orang yang berpura-pura mau menolong tetapi malah menjerumuskan, terutama oleh nabi-nabi palsu yang sibuk berkeliaran mencari mangsa. Yeremia mengingatkan bahwa penderitaan yang mereka alami itu bukan berarti Tuhan sedang jauh dari mereka. Tak habis-habisnya ia menyadarkan umat Yahudi bahwa Tuhan sebenarnya tidak berjarak dengan mereka, karena kehadiran Tuhan memenuhi setiap ruang dan celah di manapun mereka berada. Umat Yahudi diminta untuk tetap bersandar kepada Tuhan yang akan menjadi Penyelamat Sejati bagi mereka, karena Tuhanlah yang akan menolong menyelesaikan perkara yang sedang menghimpit mereka. Ibrani 11 29 – 12 2 Meskipun terpaut jarak waktu ratusan tahun dari masa hidup Yeremia, penulisan surat Ibrani rupanya di latar belakangi oleh kekacauan masyarakat yang tak kalah hebatnya. Komunitas-komunitas Kristen yang baru lahir di kawasan Timur Tengah pada waktu itu diburu dan dikejar-kejar untuk dibantai laksana binatang buruan Ibr. 1135-38 sampai mereka harus mengembara untuk bersembunyi di tempat-tempat terpencil. Kekaisaran Romawi yang sedang berkuasa tidak memberikan perlindungan kepada mereka, bahkan pada banyak kasus mereka dimanfaatkan sebagai korban penyiksaan pada arena-arena pertunjukan demi menghibur masyarakat luas. Penguasa jelas melakukan pembiaran atas terjadinya penganiayaan luas terhadap umat Kristiani zaman itu. Tidak bisa dihindari kalau kemudian situasi ini semakin melemahkan iman sebagian besar para pengikut Kristus. Hati mereka menjadi dingin, apatis, dan kehilangan harapan, karena merasa tidak ada lagi yang bisa diharapkan untuk menolong atau sekedar mengurangi kesengsaraan mereka sehari-hari. Nyali mereka semakin merosot sehingga jumlah merekapun semakin berkurang, karena berusaha mencari selamat di tempat lain atau di keyakinan lain. Rasa percaya diri mereka benar-benar habis. Itulah sebabnya penulis Ibrani terus berusaha mengobarkan iman mereka yang mulai padam dengan cara mengingatkan kembali akan iman para nenek moyang dan leluhur mereka di masa lampau yang juga mengalami masa-masa sengsara seperti mereka. Tak henti-hentinya penulis surat Ibrani ini mengingatkan para pengikut Kristus akan riwayat para pendahulu yang tak kalah susahnya, tetapi tidak sampai kehilangan pengharapan akan pertolongan Tuhan. Pengharapan yang tiada habisnya inilah yang kemudian menghidupi iman para leluhur itu, sehingga berani menyongsong kematian dalam keyakinan yang teguh akan datangnya pertolongan Tuhan bagi anak cucu dan keturunan mereka. Iman yang dihidupi oleh para leluhur dari masa lampau itu telah menembus ruang dan waktu. Inilah yang telah membawa mereka ke dalam keselamatan, walaupun mereka belum melihat Sang Penyelamat itu sendiri tiba. Besarnya pengharapan dan iman itu telah mengarahkan mereka untuk melakukan perkara-perkara besar di masa lampau, yaitu berjalan terus menuju keselamatan kekal. Inilah yang seharusnya diwarisi oleh Para Pengikut Kristus sebagai bekal menghadapi penderitaan yang sedang mereka alami di tengah runtuhnya tatanan moral masyarakat zaman Romawi saat itu. Lukas 12 49 – 56 Injil Lukas ini ditulis sezaman dengan penulisan surat Ibrani, yaitu sekitar generasi kedua masa awal umat Kristen. Artinya situasi konteksnya sama. Hanya saja surat Ibrani ini mencakup sebaran umat Kristen di kawasan yang cukup luas, misalnya dengan menyebut “saudara-saudara di Italia” Ibr. 1324, sedangkan Injil Lukas ini secara tegas ditujukan kepada Teofilus Luk. 11-3. Muatan kisah Injil Lukas adalah peristiwa pelayanan Tuhan Yesus yang berjarak beberapa puluh tahun sebelum penulisannya. Kalau menurut tradisi gereja yang didasarkan pada catatan Hippolitus 170-235 Masehi yang berjudul “Mengenai Tujuh Puluh Rasul Kristus” On The Seventy Apostles of Christ, maka Lukas si penulis Injil ini adalah salah satu dari antara ketujuh puluh murid Yesus Luk. 101. Hippolitus ini murid Ireneus. Ireneus adalah murid Polikarpus. Polikarpus adalah murid dari Yohanes salah seorang dari kedua-belas murid Tuhan Yesus. Sosok Teofilus yang disebut pada permulaan Injil Lukas itu sendiri juga samar, apakah ia ini adalah seseorang ataukah sebutan samaran untuk kumpulan orang-orang yang mengasihi Allah, sebab arti kata Teofilus itu sendiri adalah mengasihi Allah. Akan tetapi siapapun atau apapun Teofilus itu, ia adalah orang yang mengenal dan mengasihi Allah. Sangat besar kemungkinannya bahwa Teofilus itu adalah seorang pengikut Kristus yang berada di tengah konteks penganiayaan atas umat Kristen pada zaman Kekaisaran Romawi. Bedanya dengan surat Ibrani di atas adalah Lukas menggunakan kisah hidup Tuhan Yesus Kristus untuk menghibur dan menguatkan hati para pengikut Kristus zaman itu, supaya mereka tidak kehilangan harapan di tengah situasi yang sangat tidak nyaman itu. Dalam perikop kita kali ini malah dipertajam bahwa penderitaan yang saat itu dialami merupakan konsekuensi sementara akibat pilihan mereka untuk tetap mengikut Sang Kristus. Itu adalah proses yang harus mereka lewati sebagai pengikut Kristus yang akan menerima baptisan, yaitu pengakuan dari Tuhan Allah sendiri atas keterpilihan mereka sebagai pengikut-pengikut sejati-Nya Luk. 1249. Sebelum “baptisan” itu mereka terima, mereka juga lebih dulu akan menerima kesusahan, seperti yang telah dialami oleh Kristus sendiri. Oleh karena itu, mereka harus benar-benar waspada sebab yang akan memusuhi mereka justru orang-orang yang dekat dengan mereka, akibat dari pilihan mengikut Kristus tersebut. Mereka diharapkan tidak kendor semangat, melainkan tetap mengusahakan perdamaian dengan siapapun Luk. 1259 agar bisa bertahan dan akhirnya keluar dari segala kesusahan itu. Benang Merah Tiga Bacaan Ketiga perikop bacaan kita diberitakan dalam konteks ketidak-pastian di tengah penderitaan. Situasi ini seringkali menjadi kendala utama umat Tuhan di dalam menerapkan imannya. Bahkan lebih dari itu, yaitu memerosotkan kualitas iman mereka dan tak jarang bermuara pada keputusan untuk meninggalkan iman kepada Tuhan. Umat yang terperangkap dalam situasi zaman yang demikian itu tentu membutuhkan dukungan untuk menguatkan hati dan meneguhkan iman mereka agar tidak turut tenggelam ke dalam jurang penderitaan tersebut. Terlebih dukungan itu merupakan dorongan bantuan untuk menghidupkan kembali harapan yang hampir padam. Harapan dan iman adalah dua hal yang tidak mungkin dipisahkan satu sama lain. Iman tidak mungkin bisa bertahan ketika tidak ada harapan. Harapan sendiri akan menjadi pupus apabila iman akan adanya keselamatan setelah penderitaan itu tidak terpelihara dengan baik. Dan pada akhirnya, harapan dan iman akan menguat apabila dinyatakan dalam perbuatan kasih. Rancangan Khotbah Bahasa Indonesia Ini hanyalah sebuah rancangan khotbah, silahkan dikembangkan sesuai dengan konteks jemaat masing-masing Pendahuluan Jika kita kembali ke zaman nenek moyang GKJW pada saat penjajahan Jepang tahun 1941 – 1945 bisa dibayangkan bagaimana rasa ketidak-pastian melanda mereka di tengah tekanan kekuatan asing. Rasa was-was, kuatir, dan ketakutan menghantui mereka nyaris setiap hari, terlebih ketika tentara-tentara Jepang menyita Alkitab milik warga jemaat yang dianggap sebagai dokumen peninggalan penjajah Belanda yang sudah diusir oleh Jepang dari bumi pertiwi. Banyak leluhur kita yang terpaksa menyembunyikan Alkitab dengan cara membungkusnya dengan kain, memasukkannya ke dalam kaleng atau peti, lalu menguburnya di kebun-kebun belakang rumah. Hasil pertanian mereka dirampas. Apabila terjadi kelangkaan beras maka penduduk terpaksa makan gaplek, yaitu hasil pengawetan berbahan dasar singkong. Sedangkan harga kain yang mahal memaksa mereka membuat pakaian dari bahan karung goni yang bisa menimbulkan gatal-gatal pada kulit, terlebih yang kulitnya sensitif. Belum lagi timbulnya berbagai penyakit yang disebabkan cara hidup yang tidak sehat, karena kebutuhan sehari-hari serba berharga sangat mahal. Pada zaman seperti itu orang didesak untuk mencari jalan keluar sendiri-sendiri supaya bisa tetap bertahan hidup. Yang kaya enggan berbagi sebab belum tentu penderitaan itu cepat berlalu dan persediaan mereka belum tentu mencukupi untuk sampai kepada zaman yang lebih baik. Yang miskin didera rasa putus asa, karena tak ada lagi yang bisa diharapkan, kalaupun mereka memiliki sawah, ladang atau ternak, hasilnya akan dirampas oleh para penjajah. Belum lagi ketika mereka dijebloskan ke dalam romusha, kerja paksa dengan upah yang teramat sangat kecil. Sehingga demi bertahan hidup mereka dipaksa tega mengkhianati bangsanya, koleganya bahkan keluarganya sendiri. Orang saling mencurangi, main intrik dan menjarah satu sama lain demi sesuap nasi. Tidak ada yang bisa selamat dari penderitaan besar itu. Bahkan GKJW-pun terpaksa terbelah menjadi dua kubu, yaitu Majelis Agung MA yang berkedudukan di Malang versus Raad Pasamuwan Kristen RPK yang berkedudukan di Surabaya. Banyak berjatuhan korban akibat pertikaian itu dan beberapa pendeta GKJW terbunuh di ruang tahanan markas tentara Jepang. Isi Apa yang kita alami pada zaman sekarang ini mungkin tidak seburuk zaman Jepang ketika kebutuhan-kebutuhan pokok sulit didapatkan, ketika ibadah dan membaca Kitab Suci dilarang. Tetapi apakah dengan demikian lalu berarti zaman sekarang baik-baik saja? Tentu tidak semudah itu kita menjawabnya iya atau tidak. Setiap zaman mempunyai kesusahannya sendiri. Kalau pada zaman Jepang dulu kita diperhadapkan pada masalah kelangkaan kebutuhan pokok dan penyakit yang menyertainya adalah beri-beri serta busung lapar, maka zaman sekarang ini kita diperhadapkan pada masalah membludaknya kuliner dan penyakit yang menyertainya adalah diabetes serta kerusakan ginjal. Pada masa sekarang ini orang diperhadapkan pada pilihan menu kuliner yang luar biasa sampai melampaui kemampuan nalar untuk memilih, sehingga banyak orang tergelincir melakukan pemilihan atas dasar keinginannya, bukan atas dasar kebutuhannya. Kalau pada zaman Jepang dulu GKJW sempat terpecah menjadi dua kubu antara MA GKJW dan RPK karena berbeda pandangan dalam cara mempertahankan persekutuan di bawah tekanan berat penjajahan Jepang, maka sekarang ini warga GKJW terpecah ke dalam individu-individu di bawah desakan teknologi smartphone yang membuat masing-masing orang sibuk dengan dirinya sendiri. Kalau waktu itu umat GKJW dilarang beribadah dan membaca Alkitab, maka zaman sekarang umat GKJW mengalami kebingungan yang dalam untuk memilih ibadah online mana yang akan diikuti. Keberlimpahan informasi bukan berarti memudahkan umat beriman, tetapi malah membuat umat beriman tidak tahu lagi jalan mana yang akan ditempuh serta petunjuk rohaniwan mana yang akan diikuti. Kelangkaan maupun keberlimpahan yang berlebihan sama-sama merapuhkan iman umat, bahkan memecah-belah umat percaya menjadi serpihan-serpihan. Tingkat ketidak-pedulian satu terhadap yang lain meningkat tajam. Ini adalah celah peluang yang semakin terbuka dan mudah dimanfaatkan para pelaku kejahatan. Kasus perampokan atau kecelakaan ngeri di suatu tempat menjadi bahan hiburan bagi banyak penikmat Youtube di berbagai tempat. Keinginan menjadi kaya secara cepat dan mudah merasuki banyak kalangan, karena godaan iklan maupun propaganda kacangan telah membuai orang per orang. Kepalsuan merajalela untuk menyamarkan kekurangan. Nyaris semua orang ingin selalu tampak sempurna, maka kesibukannya bergeser menjadi tukang poles penampilan, menggelorakan pencitraan diri, tapi sambil menyembunyikan keminderan, menyembunyikan hutang yang bertumpuk, menyembunyikan kegagalan dan segala yang buruk. Orang mengidamkan jabatan tinggi walaupun kemampuan rendah. Transaksi jabatan, transaksi ijazah, transaksi surat-surat lisensi, marak terjadi di depo-depo yang seharusnya menjunjung tinggi martabat kemanusiaan ciptaan Tuhan. Sementara di radius wilayah yang masih berdekatan, banyak orang tersiksa tanpa kepedulian dari siapapun. Orang-orang kere mempertaruhkan hidupnya mengais-ngais rejeki di antara sampah yang terus menggunung. Gadis-gadis dan perempuan-perempuan muda diperjual-belikan layaknya binatang yang ngilu dibawa ke rumah penjagalan dengan tanpa harapan. Banyak anak yang kehilangan masa kanak-kanaknya karena diteror rasa ketakutan akibat dari tindak kekerasan dalam rumah tangga KDRT yang dilakukan oleh orang tuanya sendiri ataupun oleh pembantu rumah tangga yang stress akibat tekanan pekerjaan dan tuntutan keinginan yang berlebihan. Siapa yang mempedulikan mereka? Siapa yang mau membantu membangun asa di dalam hati mereka? Apakah yang sudah gereja lakukan untuk melegakan dan membebaskan mereka? Inilah saatnya Yeremia-yeremia modern dan Lukas-lukas milenial mewartakan pengharapan nyata kepada mereka. Bukan hanya melalui khotbah di mimbar-mimbar, tetapi juga melalui tindakan-tindakan nyata di latar-latar gereja yang dibuka lebar bagi kehadiran mereka yang lapar, bagi mereka para sundal yang rindu menjadi halal, bagi mereka kaum lemah yang berharap menjadi kuat. Sekaranglah saatnya GKJW berkiprah membenahi motivasi-motivasi kehidupan yang hilang orientasi. GKJW berkolaborasi dengan berbagai instansi untuk menepis berbagai tragedi negeri. Harapan dan iman itu membutuhkan realisasi, bukan sekedar menjadi materi khotbah yang hanya bagian dari pertunjukan liturgi. Kita tidak sedang pamer pertunjukan penuh atraksi, melainkan aksi-aksi suci yang bernas dan berisi dimana kita menjumpakan warga jemaat dan masyarakat dengan Sang Kristus sendiri di dalam keterlibatannya yang penuh misteri. Disinilah harapan dan iman itu berkelindan memperbarui motivasi, memberikan inspirasi, dan mendorong aksi suci. Penutup GKJW tidak perlu lagi berhadapan dengan penjajah dari seberang negeri, namun kini GKJW berhadapan dengan cermin yang menampilkan tampang kita sendiri. Mari kita menimbang-nimbang lagi sejauh mana perjalanan hidup ini telah kita tanggung-jawabi? Jangan-jangan selama ini kita telah dilenakan oleh kenyamanan diri dan sibuk mengupayakan keamanan diri, sehingga melupakan kenyataan sekitar yang tengah terjadi. Cukup ini sajakah pengharapan dan iman yang sudah kita hidupi? Atau masih banyak tanggung-jawab yang sedang kita hindari dengan cara merawat berbagai mimpi yang tiada pernah akan terjadi? Mari iman dan pengharapan itu terus kita bagi supaya menjadi realisasi karena di sana itulah Sang Kristus sedang menanti. Tak perlu ragu-ragu lagi, karena kita pasti bisa menangani oleh tuntunan Kristus sendiri, entah lewat UMKM Usaha Mikro Kecil Menengah, lewat kelompok Nelayan, lewat kelompok Tani, lewat perkebunan kopi, lewat tanggul bencana yang kita tekuni, lewat kelompok PAUD Pendidikan Anak Usia Dini, lewat pembentukan dan operasional lembaga anti pemaksaan kerja anak usia dini, lewat semua celah yang bisa kita garap dengan penuh bakti untuk membangkitkan harapan dan mengokohkan iman umat milik Yang Mahatinggi. Amin. [CBPA]. Pujian KJ. 445 1 – 3 Harap Akan Tuhan — Rancangan Khotbah Basa Jawi Punika namung rancangan khotbah, saged dipun kembangaken miturut konteks pasamuwan piyambak Pambuka Menawi kita wangsul malih dhateng jaman leluhuripun GKJW nalika katindhes bangsa Jepang ing taun 1941 – 1945, saged dipun bayangaken kados pundi pangraos ingkang boten pasti njalari para sesepuh kalawau ing satengahing panidhesing panguwaos manca. Raos mamang, kuwatos, lan ajrih meh saben dinten dipun alami, punapa malih nalika tentara Jepang ngrampas Kitab Suci kagungane warganing pasamuwan. Ing pundi Kitab Suci punika dipun anggep dokumen tilaranipun penjajah Walanda ingkang sampun katundhung dening Jepang saking tanah air ngriki. Kathah leluhur kita ingkang kepeksa ndhelikaken Kitab Suci kanthi dibungkus kain, dilebetaken ing kaleng utawi pethi alit, lajeng dipendhem ing kebon wingking griya. Hasil tetanen sami karampas. Nalika paceklik wos, para sepuh kepeksa dhahar gaplek, ingkang dipun damel saking kaspe aking. Sawetawis punika, reginipun kain kang awis meksa para swargi sami ngagem sandhangan kang kadamel saking karung goni, tamtu kemawon punika ndumugekaken raos gatel kados bidhuren ngaten, punapa malih menawi kulitipun sensitif. Dereng malih wontenipun pageblug ingkang dipun jalari dening tata gesang ingkang boten sehat, amargi kabetahan padintenan boten saged katumbas awit saking awisipun regi. Ing wekdal punika, kathah tiyang ingkang kepeksa pados gesang lan kawilujengan piyambak-piyambak. Tiyang sugih sansaya medhit awit boten saged nyumerepi kasangsaran punika taksih badhe kalampahan ngantos kapan. Tiyang mlarat mpun kadhung kebacut ngalup manahipun, amargi sampun boten wonten malih ingkang dipun ajeng-ajeng, amargi sok sintena kemawon sanajan gadhah sabin, pekawisan utawi raja kaya, asile mesthi karebut dening penjajah. Dereng malih menawi kakintun dhateng romusha, pengruda peksa mawi upah ingkang sekedhik sanget. Amrih slamet’e mila lajeng kepeksa sawetawis tiyang laku khianat tumrap bangsanipun piyambak, mitranipun lan malah brayatipun piyambak. Sansaya kathah ugi ingkang sami jahat dalah rerayahan tumrap sesaminipun namung supados saged nedha. Boten wonten penduduk ingkang saged endha saking kasangsaran ageng punika. Malah GKJW piyambak ngantos crah dados kalih perangan, inggih punika Majelis Agung MA ingkang mapanipun wonten Malang lawan Raad Pasamuwan Kristen RPK ingkang wonten ing Surabaya. Kathah tiyang ingkang kepeksa pejah dados tumbaling konflik punika lan malah sawetawis pandhita GKJW kepeksa ngalami seda ing ruang tahanan markas-markas tentara Jepang. Isi Punapa ingkang sami kita alami samangke saged ugi boten ngantos nemahi pakewet kados rikala jaman Jepang rumiyin, ing pundi kabetahan padintenan pancen ewet dipun angsalaken. Boten ngantos nyusahaken kados nalika dipun penging ngabekti lan anggegilut Kitab Suci. Nanging punapa punika ateges jaman samangke linangkung sae? Mesthi kemawon boten gampil mangsuli pitakenan punika mawi wangsulan inggih utawi mboten. Saben jaman anggadhahi masalahipun piyambak. Menawi ing jaman Jepang kita ngadhepi masalah kekirangan bab kebutuhan padintenan lan penyakit ingkang ngiringi inggih punika kados ta beri-beri lan busung lapar, samangke kita ngadhepi masalah lumebering kuliner lan penyakit ingkang ngiringi punika diabetes dalah karusakan ing ginjel. Ing mangsa samangke kita sami ngadhepi pilihan menu kuliner ingkang kalangkung-langkung cacahipun ngantos anglangkungi kasagedan kita anggenipun badhe milih, mila kathah tiyang ingkang miji adhedhasar kepingian sanes adhedhasar kabetahan. Punika tembe prekawis kuliner dereng kepetang bab sandangan lan sanes-sanesipun. Ing jaman kepengker, GKJW pecah dados kalih antawisipun MA GKJW lan RPK amargi benten pemanggih bab tata ngrimat patunggilan ing satengahing penjajahan Jepang, samangke warga GKJW malah kapilah dados individu-individu amargi karuda-peksa dening kemajenganipun teknologi smartphone, ingkang ndadosaken saben tiyang rumaos repot kaliyan dirinipun piyambak. Menawi rumiyin tiyang GKJW dipun penging ngabekti lan maos Kitab Suci, samangke warga GKJW linangkung bingung nalika badhe miji ngabekti online ingkang badhe dipun dherek’i. Linubering informasi boten ateges nggampilaken para pitados, ananging malah ndadosaken para pitados punika kecalan cecepengan ngantos boten nyumerepi malih punapa ingkang kedah katindakaken lan pitutur pundi ingkang kedah dipun ugemi. Kakirangan lan kaluberan ingkang kalangkung-langkung sami-sami ngrisak iman kapitadosanipun sok sintena kemawon, malah ndadosaken crah lan bubrahing patunggilanipun para pitados. Tiyang setunggal lan satunggalipun sansaya boten peduli. Prekawis punika ndadosaken kesempatan tumraping para panindak culika. Kedadosan rampog utawi tabrakan ingkang nggegirisi tumrap ing satunggaling papan, malah dados hiburan tumraping para penonton Youtube ing pundi-pundia panggenan. Bab kepinginan sugih mawi cara ingkang gampil, sansaya nyebar dhateng sedaya tiyang, amargi panggudhaning pariwara sampun ngiming-iming saben tiyang. Kepalsuan sumebar kangge nutup-nutupi kakirangan. Meh sedaya tiyang kepengin tansah ketawis sampurna, mila lajeng sami repot dados tukang nutup-nutupi kacacatan supados citra diri tansah ketawis elok, ananging sejatosipun ndhelikaken pangraos minder, ndhelikaken utang ingkang ngantos matumpuk-tumpuk, ndhelikaken sedaya kegagalan dalah sedaya ka’alan ingkang dipun gadhahi. Kathah tiyang ingkang sami minginaken jabatan ingkang inggil, senajan ta kasagedanipun sarwa winates. Transaksi jabatan, transaksi ijasah, transaksi surat-surat ijin marak ing pundi-pundia papan, ingkang kedahipun nginggilaken martabat kamanungsan titahipun Gusti. Wondene ing tlatah ingkang taksih celak-celak ngriku mawon taksih kathah tiyang ingkang ngalami panyiksan tanpa angsal kawigatosan saking sok sintena kere kepeksa pados rejeki ing antawisipun wuwuh lan larahan ingkang sansaya numpuk. Bocah-bocah wadon lan nem-neman putri sami ka’adol kados dene sato kewan ingkang kabekta dhateng pajagalan, kanthi kecalan pangajeng-ajeng. Kathah lare ingkang kecalan kabingahan awit kaliputan pangraos ajrih awit saking tumindak KDRT dening tiyang sepuhipun piyambak utawi pembantu rumah tangga ingkang saweg stres amargi kinging tekanan batin lan pepinginan ingkang linangkung ageng. Sinten ingkang badhe peduli dhumateng para korban kalawau? Sinten ingkang ikhlas paring pambiyantu mangun pangajeng-ajeng ing salebeting manahipun? Punapa ingkang sampun katindakaken dening greja kangge nglipur lan nguwalaken tiyang-tiyang ingkang sedih kados mekaten? Inggih samangke punika wancinipun Yeremia-Yeremia modern lan Lukas-Lukas milenial martosaken pangajeng-ajeng nyata tumraping para kinasihipun Gusti punika. Mboten namung lumantar piwucal saking nginggiling mimbar, ananging ugi lumantar tumindak konkrit ingkang dipun lampahi pasamuwan ingkang sampun purun mujudaken karsanipun Gusti, tumrap tetiyang ingkang saweg keluwen, tumrap para tuna susila ingkang minginaken pamratobat, tumrap tetiyang ingkang ringkih lan mbetahaken kakiyatan. Samangke wancinipun GKJW ndherek ndandosi motivasi gesang ingkang sami kesasar. Samangke wancinipun GKJW gotong-royong kaliyan mawarni-warni lembaga, supados saged nyegah prekawis-prekawis ingkang saged tuwuh dados tragedi nasional. Pangajeng-ajeng lan iman kapitadosan perlu dipun wujudaken kanthi saestu, mboten namung dados bahan khotbah minangka perangan saking pagelaran liturgi kemawon. Kita mboten pareng malih ming ndamel pertunjukan ingkang namung kebak atraksi, ananging langkung kathah nindakaken tumindak luhur ingkang saestu migunani lan saged manggihaken warganing pasamuwan saha masyarakat kaliyan Sang Kristus piyambak. Inggih punika pangajeng-ajeng lan iman kapitadosan ingkang saestu saged nganyaraken motivasi, ndumugekaken inspirasi lan nuwuhaken tumindak luhur tumraping sesami. Panutup Samangke sampun boten prelu malih GKJW ngadhepi penjajah kados dene rumiyin, ananging samangke GKJW saweg ngadhepi kaca pangilon ingkang ndunungaken pasuryanipun piyambak. Sumangga sami dipun galih malih sapinten tanggel jawab kita tumrap ing gesang sesarengan kaliyan para ngasanes punika? Saged ugi salaminipun punika kita sampun rumaos sekeca lan repot anggenipun nggayuh tentrem kita piyambak-piyambak, matemah kesupen dhumateng kawontenan nyata ing sakiwa tengen kita. Punapa leres tumraping manah kita, bilih punika saestu wujuding pangajeng-pangajeng lan iman kapitadosan ingkang sejati? Aja-aja taksih kathah lan rumentep jejibahan ingkang kita selaki, mawi cara ngrimat pangimpen kothong ingkang saestunipun boten nate kita lampahi? Sumangga kita sami nglajengaken kapitadosan saha pangajeng-ajeng punika supados dados pawujudan nyata, awit ing ngriku anggenipun Sang Kristus sampun angantos-antos kula lan Panjenengan sedaya. Selajengipun kita mboten perlu mamang malih, amargi kita mesthi saged mrantasi sedaya prekawis punika kanthi tuntunan Sang Kristus piyambak, punapa punika badhe lumantar UMKM Usaha Mikro Kecil Menengah, lumantar kelompok Nelayan, lumantar kelompok Tani, lumantar perkebunan kopi, lumantar kelompok kerja tanggul bencana ingkang saestu kita rimati, ugi saged lumantar kelompok PAUD Pendidikan Anak Usia Dini, lumantar pamiadegipun lembaga anti-parudapeksa tumraping para lare, lumantar samudayaning kesempatan ingkang saged kita ginaaken kanthi kebak ing kaikhlasan saperlu kangge ngagengaken pangajeng-ajeng lan ngiyataken iman kapitadosanipun para titah kagunganipun Kang Mahaluhur. Amin. [CBPA]. Pamuji KPJ. 86 1 – 5 Mugi Sampun Anglangkungi
"Project creator ini belum melakukan verifikasi atau masih sedang dalam proses verifikasi. Silakan donasi jika Anda kenal dengan project creator." Rp. 0 Rp. Target Share ke - Setiap tindakan 'Share' sangatlah berarti! Mari bersama-sama membangun harapan. Kami sangat membutuhkan uluran tangan orang-orang yang berhati baik terhadap sesama umat ciptaan Tuhan dalam hal melanjutkan pembangunan Rumah Tuhan di tempat ini. Disclaimer Informasi yang tertulis di halaman ini adalah milik project creator dan tidak mewakili GOBlessing - Informasi belum tersedia - Jika Anda mengenal pemilik project ini dan mengetahui kebenaran dari project ini, Anda dapat memberikan dukungan untuk membantu pemilik project meningkatkan kepercayaan sehingga dapat dengan segera mencapai target projectnya. Silahkan klik tombol dibawah ini untuk mengisi kolom pendukung. Masuk Penerima Donasi 0 Giver Urutkan Berdasarkan pemberian terakhir diberikan oleh donatur Berdasarkan pemberian terbesar yang diberikan oleh donatur Belum ada yang pertama! Terverifikasi Project ini telah melewati proses verifikasi GOBlessing. Kunjungan Lokasi Project Creator telah mengunjungi lokasi dan memiliki orang yang dapat dihubungi di lokasi tersebut. Kunjungan Staff Team GOBlessing telah mengunjungi lokasi project ini. Terhubung Penggalangan dana ini terhubung dengan yayasan XXXXXX
Jakarta - Majelis Jemaat dan jemaat Gereja GPIB Pelita Jakarta menyampaikan rasa terima kasih kepada Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan beserta Wakil Gubernur Wagub, Ahmad Riza Patria karena telah menyalurkan bantuan sosial melalui dana hibah Bantuan Operasional Tempat Ibadah BOTI.“Setelah 40 tahun menunggu dan beberapa kali ketua Majelis Jemaat berganti, Puji Tuhan baru di bawah kepemimpinan Anies, GPIB Pelita Jakarta mendapatkan BOTI, Izin Prinsip dan IMB. Terima kasih, Pak,” kata Pelaksana Harian Majelis Jemaat PHMJ GPIB Jemaat Pelita Jakarta, Sarah Tahitu Hengkesa di Balai Kota DKI, Ahad, 16 Oktober Prinsip dan Izin Mendirikan Bangunan IMB, kata dia, juga telah diterbitkan. “Pembangunan gedung gereja GPIB Pelita Jakarta yang berkantor di Jalan Pelita, Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur dapat dilaksanakan,” Tahitu mengatakan, pembangunan gedung gereja merupakan hasil dari penantian panjang sejak GPIB Pelita Jakarta dilembagakan pada 24 Oktober Sarah, pembangunan gedung gereja GPIB Pelita Jakarta yang dimulai sejak 30 Agustus 2022 lalu sedang berlangsung dan diharapkan selesai pada 2023 mendatang.“Terima kasih Pak Gubernur dan Pak Wagub yang telah memberikan dukungan dan bantuan dalam pembangunan gedung gereja GPBI Jemaat Pelita. Kami ucapkan sehat dan sukses selalu buat bapak," KJMU terima kasih ke AniesSelain Sarah, para penerima manfaat Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul KJMU turut menyampaikan apresiasinya kepada Anies dan Riza Salah satu alumni UPN Veteran Jakarta, Jessica Rachel mengatakan bahwa dirinya sangat merasakan manfaat KJMU. Berkat KJMU, kata dia, ia tidak mengeluarkan biaya pendidikan mulai awal hingga lulus kuliah.“Alhamdulillah saya mendapatkan bantuan KJMU yang di mana saya tidak membayar UKT sepeser pun dari awal saya kuliah sampai saya bisa lulus Ilmu Keperawatan,” kata Jessica.“Semoga kami dapat berkontribusi kepada masyarakat Jakarta yang telah memberikan kesempatan untuk menerima bantuan tersebut,” YUANTISYABaca juga Pengurus Gereja Sebut Anggapan Anies Baswedan Sosok Intoleran Keliru
Sumber / 20 October 2022 Claudia Jessica Official Writer Untuk mendukung pembangunan gedung Gereja Kalimantan Evangelis GKE, Bupati Gunung Mas, Kalimantan Tengah, sekaligus Ketua Perwakilan Majelis Sinode GKE Wilayah Gunung Mas, Jaya S Monong mengajak jemaat dan seluruh pihak untuk berbagi berkat pada hari Rabu 19/10/2022. Saat meletakkan batu pertama pembangunan gedung GKE Pandohop Tumbang Miwan, Jaya berkata, “Saya mengajak jemaat dan seluruh pihak untuk mendukung pembangunan gedung gereja ini, dengan cara berbagi berkat.” Jaya berharap dengan bantuan seluruh pihak, pembangunan gedung gereja bisa segera selesai. Jaya mengingatkan bahwa hal yang utama dalam pembangunan gedung gereja ini adalah jemaat selalu mengandalkan Tuhan. Dengan mengandalkan Tuhan, Jaya yakin bahwa pembangunan gedung gereja akan berjalan dengan baik hingga selesai. Tak hanya membangun gereja secara fisik, pendeta, penatua, daikon, dan seluruh pekerja gereja diingatkan untuk meningkatkan pembangunan dari sisi kerohanian jemaat. “Saya yakin dan percaya, jika masyarakat kita takut akan Tuhan, maka mereka akan menghindari hal-hal yang bertentangan dengan firman Tuhan, salah satunya mereka akan menolak narkoba,” pungkas Jaya. Sementara itu, Ketua Pembangunan Gedung GKE Pandohop Tumbang Miwan, Nenengson memaparkan sejumlah alasan dan pertimbangan dari keputusan jemaat untuk membangun gedung gereja baru. Pasalnya gedung gereja yang selama ini digunakan membutuhkan perbaikan lantaran bagian atas yang sudah mulai lapuk, atap yang bocor, dinding beton yang sudah banyak retak. Pertimbangan lainnya adalah mengingat saat ini gedung gereja berada di atas tanah yang tinggi dan berhadapan langsung dengan jalan raya, membuat kondisi ini dinilai membahayakan pengguna jalan dan jemaat yang harus keluar-masuk gereja, terutama anak-anak. Tempat parkir yang ada saat ini juga dinilai sudah tidak mampu lagi menampung banyaknya jemaat dari Gereja Kalimantan Evangelis. Menurut perencanaannya, gedung gereja yang baru akan dibangun di atas lahan seluas 100 x 42 meter, dan gamabaran global lebar dan panjang bangunan adalah 15 x 18 meter. Melihat kondisi keuangan yang ada saat ini, panitia berharap dapat menyelesaikan pembangunan pondasi dan untuk selanjutnya panitia berharap ada berkat dari berbagai pihak. Nenengson menyampaikan bahwa sejauh ini beberapa pihak telah mendukung pembangunan gedung gereja baru, baik dalam bentuk dana, sumbangan bahan bangunan, saran, dan lain sebagainya. “Saya juga menyampaikan terima kasih kepada warga jemaat GKE Pandohop Tumbang Miwan, atas partisipasi, kerja sama dan kebersamaan selama ini, dalam membangun gedung gereja yang baru,” demikian Nenengson. Sumber Halaman 1
khotbah pembangunan gedung gereja